Beranda

Langsung ke konten utama

THE SCARECROW (2026): Hidup Korban Serial Killer


Masih ingat Kasus Pemb*nuhan Berantai Hwaseong?

Salah satu cold case Korea yang banyak diangkat jadi referensi drama maupun film.

The Scarecrow pun menampilkan inspirasi kisah serupa, dengan detail lebih lengkap. Bahkan disebut drama pertama dan paling mendekati kisah nyatanya setelah pelaku berhasil diidentifikasi pada 2019

REVIEW
Jika drama atau film dengan tema serupa selama ini fokus pada penangkapan pelaku, The Scarecrow menampilkan sisi humanis lewat POV semua orang yang berkaitan dengan kasus, terutama keluarga korban. 

Drama ini dibuka dengan Tae Joo yang dipindahtugaskan ke Gangseong, padahal karirnya sudah lumayan mentereng di Kepolisian Metropolitan. Awalnya, kasus yang ia tangani hanya remah-remah. Hingga satu kasus pembunuhan dengan tersangka pencopet yang pernah ia tangkap menarik perhatiannya. 

Tae Joo merasa polisi salah ringkus. Sebab pencopet tersebut, sepanjang yang Tae Joo tahu hanyalah pelaku level kroco. Dan Tae Joo rasa, pembunuh*n tersebut punya banyak kemiripan pola dengan kasus-kasus lampau yang pernah dia baca. 


Berangkat dari kegelisahan itulah, ia meneliti kasus terdahulu. Tae Joo kemudian berteori bahwa semua kasus tersebut berkaitan, dan ini dilakukan oleh 1 orang, a.k.a pembunuh*n berantai. 

Maka dia berkeliling menginvestigasi tanda dan pola, sembari dramanya menyajikan slide bergantian antara Tae Joo di masa depan sebagai profesor dan Tae Joo muda yang penuh gairah menemukan sang pelaku. 

Menurut Tae Joo, pola utama kejahatan ini adalah sang pelaku menyamar jadi orang-orangan sawah (The Scarecrow). Ia menunggu korbannya lewat (mayoritas wanita), membuntutinya perlahan dengan samarannya, yang ketika sang korban curiga dan menoleh ke belakang, ia akan pura-pura mematung sebagai The Scarecrow. 

Mayoritas tak akan "ngeh" kalau ia dibuntuti, sebab masa itu, Gangseong rata-rata berupa persawahan, yang kalau malam hari gelap gulita. Bisa bayangkan seramnya? 

Saya pribadi bergidik saat tahu faktanya. Bayangin, sendirian malam-malam, lalu tiap sekian meter kita menoleh ke belakang, ada orang-orangan sawah? Melangkah lagi, lho kok dia ngikut? Ditambah backsound menegangkan. Terus kita dikejar! Walah apa nggak berdiri bulu roma?! 😭

Batin saya, pantas drama ini judulnya The Scarecrow!

TANTANGAN KEKERASAN DALAM INVESTIGASI 
Dalam proses menangkap sang pelaku, Tae Joo tidak hanya bertarung dengan sulitnya memvalidasi barang bukti & minimnya teknologi, namun juga kultur kerja kepolisian di masa itu.

Beberapa oknum menginvestigasi tersangka menggunakan kekerasan. Biasanya dilakukan saat kurangnya bukti. Tersangka dikurung berhari-hari sembari dipukuli, dibiarkan kelaparan dan kehausan, hanya untuk memaksanya mengaku. 

Parahnya, oknum-oknum ini punya kongkalingkong kuat, dari bawahan sampai kejaksaan. Tokoh hukum antagonis utama di The Scarecrow adalah Cha Si Young, jaksa angkuh teman sekolah sekaligus musuh bebuyutan Tae Joo. 

Konflik internal kepolisian jadi batu sandungan besar untuk investigasi Tae Joo, panjang dan melelahkan. Seolah hanya Tae Joo polisi jujur, berprinsip dan peduli pada masyarakat. Seolah hanya dia yang berusaha, di tengah-tengah para petugas hukum koruptor itu. 

Well, saya pun lelah nontonnya. Kasihan Tae Joo. 

NONTONLAH TANPA SPOILER!
Jujurly, saya nonton The Scarecrow setelah lihat postingan soal pelakunya. Cuplikan video itu sangat menarik karena kengerian judulnya dan akting sang pemeran. 

Dan ternyata, The Scarecrow adalah tipe drama-drama misteri jadul yang PENGUNGKAPAN PELAKUNYA ADALAH HAL EXCITING, MENDEBARKAN DAN MENGEJUTKAN. Jadi pemirsa, nontonlah tanpa spoiler! WAJIB! Hahaha.

Beneran deh. 
Sutradara The Scarecrow bilang, plot drama ini membuat sang pelaku punya kesan "hyung tetangga sebelah rumah yang ramah", seperti kasus aslinya. Kita nggak punya clue apapun, nggak bakalan menduga kalau ternyata orang tersebut adalah pelaku karena in real life, dia orang terdekat kita, baik dan pendiam. 

Diam-diam menghanyutkan. 

Diam-diam menyamar jadi Scarecrow. Diam-diam mengintai dengan wajah buas dan senjata di tangan. Diam-diam siap menyerangmu yang berjalan malam sendirian. Diam-diam membunglonkan diri, membungkam mulut, berakting sebagai orang baik, namun menyiapkan trik keji pembun*han paling rapi sambil memantau semua situasi.


Semua hal tersebut, kalau kamu menonton tanpa punya clue apapun, akan membuat drama ini jadi berkali-kali lipat lebih berkesan. Kata salah satu netizen, "aku merinding sebadan-badan pas pelakunya diungkap."

Saya rasa itu valid. Apalagi The Scarecrow memang sedikit demi sedikit memberi clue dengan menyajikan adegan Tae Joo yang mewawancarai pelakunya di masa kini. Kita dikasih petunjuk hanya lewat suara saat keduanya mengobrol.  Dan terus terang, saya yang menonton dalam kondisi sudah tahu pelakunya, clue suara tersebut jauh berbeda dengan suara dari pemerannya di fragmen masa lampau. 

Jadi saya menduga, penonton ongoing memang benar-benar dibuat terperangah oleh kru produksi. Dan pemirsa, euforia yang hanya didapatkan saat menonton genre misteri tersebut sangat layak dirasakan penuh-penuh!

So, jangan cari spoiler dulu!

KARAKTERISASI MAPAN, DRAKOR MISTERI DENGAN NUANSA UNIK
Jika sekian banyak drakor misteri menekankan pada megahnya penemuan pelaku, The Scarecrow menambahkan sejumput sentuhan unik: melodrama. 

Seperti judul tulisan ini, The Scarecrow lebih menekankan pada bagaimana hidup semua orang yang terdampak oleh kasus. Keluarga korban, para penegak hukum, jurnalis yang memberitakan perkembangan kasus, penduduk Gangseong, dan tersangka salah tuduh yang menghabiskan hidupnya 20 tahun di penjara.

Tae Joo selalu bilang: ini adalah kasus yang mengubah hidup semua orang. 

In real case and real life, pelaku Hwaseong Serial Killer baru tertangkap puluhan tahun kemudian dengan paradoks. Ia berhasil diidentifikasi justru saat ia sudah ada di penjara atas kasus lain. Polisi memastikan DNA nya sama dan Lee Chung Jae (nama sang pelaku) pun mengakui kejahatannya. Namun, batas waktu kasus tersebut sudah lewat. Hukum Korea tak dapat mempidanakan LCJ atas pembunuh*n berantai. 

Di drama, cerita pun dibuat mirip seperti kisah nyatanya. Kita akan dibuat marah sebab pada akhirnya tak ada yang dihukum berat karena kasus pembunuh*n berantai Gangseong. Padahal ada yang mati sebab kekerasan dalam investigasi; orangtua yang menunggu anaknya kembali; penduduk Gangseong yang sekian masa menderita serta ketakutan akan jadi korban berikutnya; para polisi jujur yang menginvestigasi dengan jiwa dan raga. 
 
Begitu banyak orang menderita, namun mereka yang menzalimi tak bisa diadili. 

The Scarecrow "membuat" makna keadilan sendiri di ujung cerita. 

Selain menyajikan pengadilan ulang dan pembersihan nama korban disabilitas salah tangkap sebagaimana kisah aslinya--yang seluruh adegannya sendiri sangat pedih dan menyakitkan--, The Scarecrow memberi pembalasan sempurna untuk oknum penegak hukum pelaku kekerasan investigasi. 

Kroco-kroconya diberi hukuman sosial, dibuat malu di ruang pengadilan. Mereka pun bertahun-tahun masih jadi kacung Cha Si Young, tanpa perkembangan skill maupun kinerja berarti, meski sudah naik pangkat. 

Sedangkan otak dari kekerasan investigasi tersebut, Cha Si Young, si jaksa keras kepala, angkuh, licik dan plin plan yang diperankan dengan apik oleh Lee Hee Jun ini diberi penghakiman memuaskan, bersumber dari sesuatu maupun seseorang yang paling berharga baginya. 

Saya pribadi sangat suka karakter Cha Si Young tetap begitu-begitu aja, nggak ada perubahan dia tiba-tiba bertaubat gitu haha, dari muda sampai tua. 

Kenapa? Padahal toh bagus kalau dia jadi orang baik, kan, ya?

Namun, sifat manusia nyatanya sulit berubah. Terlebih, Cha Si Young sampai episode 11 tetap begitu dah sifatnya, nggak ada tanda-tanda dia bakal taubat. So, kalau dengan dibujuk Tae Joo dan keluarganya saja dia mau berubah, cerita The Scarecrow yang well written sepanjang penayangan jadi bolong besar. 

That's why salah satu scene paling memuaskan di episode 12 adalah keangkuhan dia di kursi saksi pengadilan. Keangkuhan yang masih dia pertahankan akibat enggan meminta maaf mengakui kesalahan. Keangkuhan yang pada akhirnya merugikan diri: kehilangan keluarga dan kepercayaan orang yang sangat menyayanginya. 

Pembalasan sempurna sekaligus paradoks untuk perbuatan dia dari masa lampau sampai kini.

PENUTUP
Well, review cuap-cuap ini sudah panjang sekali. Mari kita wrap dengan penutup singkat saja. 

Secara keseluruhan, The Scarecrow sangat layak jadi list tontonanmu di genre misteri.

Akting semua pemeran begitu apik, kuat dan presisi. Semuanya, tanpa terkecuali, bahkan meski ia aktor pendukung. Terlebih teknik akting oleh aktor yang sama namun dalam versi berumur. 


Saya nggak tahu adakah teknologi pengubah suara haha, karena jika didengarkan dengan seksama, aktor-aktris kawakan ini menyetel suara diri yang jauh berbeda di masa kini, saat rambut mereka memutih. Impresif! 

Begitupun dengan sekian menit jaksa wanita yang sengaja berstoking menginterogasi pelaku. Cara si pelaku menatap liar perempuan menarik di hadapannya, namun lantas kepercayaan dirinya dikuliti secara frontal oleh sang jaksa. Mikro ekspresi, teknik kamera, backsound. GILA! STRES!

Belum lagi adegan magnetis yang mewakili intisari The Scarecrow sendiri: adegan Tae Joo mendatangi korban salah tangkap, memberinya informasi bahwa sang pelaku asli telah teridentifikasi, lantas perlahan sang korban meraung sengsara. 

"Sudah kubilang bukan aku pelakunya. Kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang? Sudah kubilang bukan aku," sambil menangis terduduk, membayangkan seluruh penyiksaan interogasi yang ia alami, hinaan masyarakat, jauhnya keluarga dan puluhan tahun masa muda yang hilang darinya. Sementara Tae Joo pun ikut tersimpuh menangis sambil berkali-kali meminta maaf dibalik pagar rumah, padahal sejatinya bukan ia yang salah. 


Semuanya disempurnakan oleh ostnya yang bernuansa retro: seolah mewakili tragedi yang bermula dari masa lampau ini.

Air mata dan hati saya diremas-remas 😭😭😭😭

Pemirsa, silakan nonton sendiri! 


Zey's Review: 10/5 





Komentar