Langsung ke konten utama

MR. SUNSHINE #2: Sad Ending?

Minggu (30/9), tvN menayangkan episode terakhir Mr. Sunshine. Satu minggu lebih lambat dari jadwal tayangnya, dikarenakan minggu sebelumnya tivi kabel ini menyiarkan perayaan Chuseok di Korea Selatan. Dan masih sama seperti tayangan sebelumnya, episode terakhir drama historikal ini juga meraup rating tinggi, 18, 1%.

Singkat cerita, dua episode terakhir Mr Sunshine boleh dikatakan adalah episode puncak. Scene yang ditunggu jawabannya oleh penonton setia, apakah ending drama benar-benar seperti jargonnya, "Gun, Glory, Sad Ending", atau penulis Kim Eun Sook berbaik hati menjadikan para tokohnya mengakhiri perjuangan dengan manis dan penyatuan cinta yang sakral antara Eugene-Ae Shin.

Source: Google

Magis.
Kalau bisa kukatakan.
Tidak ada drama-drama sebelumnya yang memengaruhiku sedalam ini kecuali Mr. Sunshine.

Kalau postingan sebelumnya aku tulis dengan penuh suka cita dan bahagia, bagian kedua dari cerita drama ini kutulis dengan hati sedih.

Apa pasal?
Ternyata ekspektasi penonton untuk melihat Eugene dan gadis yang dicintai, Ae Shin, meniti hidup bahagia benar-benar hanyalah ekspektasi. Di akhir episode, demi menyelamatkan Ae Shin yang terancam bahaya saat melaksanakan misi, Eugene merelakan diri ditembak hingga mati oleh tentara Jepang. Membuat gadis cantik itu berderai air mata dan dengan sedih meneriakkan nama sang kekasih. Tak menyangka pria yang dicintainya akan mengambil keputusan sebesar itu.


Scene ini benar-benar membuatku terpukul "sungguhan", seolah aku menjadi Ae Shin yang sangat kehilangan Eugene. Kesedihan itu seolah menjelma nyata. Linimasa twitter penonton setia drama ini pun merasakan hal yang sama. Lee Byung Hun dan Kim Tae Ri benar-benar serius mendalami peran mereka.
Di lain sisi, ketiga tokoh yang lain juga menutup mata lewat takdir mereka masing-masing. Kudo Hina mengembuskan napas terakhir di pelukan Dong Mae, setelah terluka akibat ledakan hotel yang direncanakannya. Ia meninggal usai memberitahu pria yakuza itu bahwa dirinya ternyata menaruh hati, dan tanpa putus asa menunggu 3 tahun lamanya.


Gu Dong Mae mati di tangan pasukan yakuza sang "ayah" angkat (pemimpin yakuza Jepang). Setelah kembali dari jurang kematian 3 tahun yang lalu, ia bertolak menuju Joseon. Selain mencari Ae Shin, ia juga merebut kembali markas yang dulu digunakannya saat di Joseon, dimana selama ia pergi, dojo itu ditempati oleh pasukan sang pemimpin.

Ia mengirim telegram kepada para pengikutnya di Jepang, bahwa telah kembali. Yang ternyata dibalas oleh mayat salah seorang pengikut setianya. Dong Mae naik pitam, dan bertarung habis-habisan. Pasukan sang ketua yakuza yang banyak, ditambah dengan fisiknya yang melemah akibat peristiwa 3 tahun yang lalu, membuat Dong Mae kalah jumlah dan mengembuskan napas terakhir di pertempuran itu. Sang yakuza sangar namun berhati lembut ini menutup mata setelah mengenang sang gadis bangsawan pujaan hati.


Tokoh selanjutnya, Kim Hui Seong, meniti jalan sebagai seorang jurnalis dan editor koran tanpa nama, yang mengabarkan keadaan terkini Joseon. Saat kekejaman Jepang di Joseon semakin menggila, tulisannya mampu menggerakkan warga Joseon untuk melawan tirani. Satu sisi membangkitkan semangat penduduk Joseon, namun merugikan pihak penjajah. Maka antek Jepang kemudian memburunya, mengejar sang editor misterius.

Singkat cerita, ia ketahuan. Hui Seong ditangkap dan diinterogasi. Dan selayaknya sikap seorang pejuang, ia tidak menjawab pertanyaan apapun tentang Pasukan Kebenaran (dimana sang mantan tunangan adalah anggotanya), meski dipukuli hingga berdarah-darah. Serta sebagaimana Kim Hui Seong yang slengean, selalu tenang menghadapi masalah, dan selalu ceria serta humoris, ia di akhir hayatnya masih menjadi Hui Seong yang suka menyelipkan kata-kata indah.


Dan endingnya ini benar-benar melenceng dari perkiraan netizen. Semua main cast nya meninggal kecuali Ae Shin. Perdebatannya adalah, apakah ending Mr Sunshine ini happy ending ataukah sad ending?

Dari sisi cinta, Mr Sunshine memang sad ending. Ae Shin ditinggal mati oleh sang kekasih, padahal mereka sudah berstatus 'menikah' diatas kertas. Ini tentu saja bukan akhir yang bahagia, dan bukan pula yang diharapkan oleh shippers mereka berdua.

Namun dari sisi patriotisme, perjuangan melawan penjajah, drama ini berakhir dengan senyum para pejuang yang terkembang. Mereka berhasil menaklukkan penjajahan di zaman mereka, dan mengibarkan bendera negara dengan bangga. Meski scene terakhir diceritakan bahwa Korea Selatan belum merdeka. Dan meski harus melewati kematian demi kematian rekan seperjuangan.

Aku suka ucapan Eugene pada Ae Shin saat gadis itu menangis menghadapi kematian kedua pengasuh yang seperti orangtua baginya. "Kau harus siap menghadapi kematian orang-orang yang kau cintai."


Dan memang benar. 
Menjadi seorang pejuang berarti meniscayakan kematian. Karena jalan perjuangan yang ditempuh adalah jalan berliku, berkelok, dimana nyawa adalah taruhan. Jadi kematian dalam perjuangan, apalagi memperjuangkan kemerdekaan dan melawan penjajah adalah satu keniscayaan. Tidak bisa dihindari.

Itu pula menurutku, yang menjadi jalan pikiran tokoh Eugene dalam cerita ini. Setelah sebelumnya tak ingin memperjuangkan kemerdekaan Joseon, ia kemudian bersedia meninggalkan Amerika yang aman sentosa demi melindungi perjuangan yang ditempuh sang istri.

Aku pun kemudian mengerti alasan drama ini berjudul Mr Sunshine. 
Ia seolah menceritakan biografi sang kapten marinir, Eugene. Dari awal kelahirannya, imigrasinya ke Amerika, kisah cintanya, dan pengorbanannya pada tanah air yang dahulu tidak disukainya. Kisah heroik yang kemudian membuatnya dikenang sebagai pahlawan terhormat.


Tidak bisa tidak.
Mr Sunshine mengajarkan kepada kita--lagi lagi--tentang perjuangan berdarah-darah para pahlawan bangsa, demi melihat senyum dan kedamaian anak cucu kelak. Bahwa keturunan mereka harus tinggal di tanah yang merdeka. Bahwa senyum mereka adalah senyum penuh kelegaan, hidup di negeri yang damai. Tanpa kolonialisme penjajah yang mereka alami.


Drama ini, bagiku adalah salah satu drama spektakuler yang wajib ditonton oleh para kdramaers atau kamu-kamu yang juga tertarik dengan drama bergenre sejarah dan romance.

Sepanjang episode ga ada scene-scene yang ga patut seperti romansa berlebihan (gimana mau ada, wong pegangan tangan aja berasa romantis banget wkwk). Selain memang sinematografinya  yang setara film, chemistry para pemainnya apik, plot ceritanya juara, dan diproduksi oleh duo maut screenwriter dan sutradara di dunia kdrama. Ratingnya di KorSel pun tinggi, membuat doi masuk dalam jajaran drama tivi kabel yang paling banyak ditonton. 

Have fuuuunn..
Sampai ketemu di review film/drama berikutnyaaa :D

Komentar