Beranda

Langsung ke konten utama

Review EVE (2022); Antara Cinta dan Balas Dendam Seo Ye Ji


Beberapa waktu belakangan, perselingkuhan dan balas dendam ramai digunakan dalam plot-plot drama Korea. Tema tersebut tentu saja sudah ada sejak zaman baheula. Namun menurut pengamatan saya, ikon yang kemudian menyebabkan drama Korea masif mengeksekusi dua tajuk tersebut adalah The World of The Married. 

Perselingkuhan dibalut intrik-intrik elegan balas dendam sang istri sah. Budaya sudah bergeser. Sudah bukan zamannya film dan serial menayangkan wanita menangis sakit hati dalam diam jika suaminya punya simpanan. The World of The Married mendobrak stigma itu dan menyajikan cerita yang dieksekusi sedemikian apik hingga penonton ikut bersumpah serapah. 

Eve yang dibintangi Seo Ye Ji ini mengangkat tema senada, namun dari sudut pandang berlawanan seorang Lee La El; gadis muda yang menyelingkuhi suami orang lain demi membalas dendam, atas dirinya yang terpaksa kehilangan orang tua akibat intrik keji perebutan paksa perusahaan. 

Ayahnya, pemilik Gediks Semiconductor, disiksa dan dibunuh karena tak mau menandatangi kesepakatan pemindahan kepemilikan Gediks ke tangan Han Pan Ro; politikus ambisius nan keji yang tak segan menghabisi nyawa untuk mendapatkan keinginannya. 

ELEGANSI PEMERAN 
Tak ada yang bisa memerankan Lee La El sebaik Ye Ji. 

Tak ada yang bisa memadukan karakter traumatis, pembalas dendam yang mengancam nan berbahaya, sekaligus wanita penggoda memesona, seberkesan Ye Ji melakukannya. Permainan ekspresinya, intonasi suara hingga tawanya. Dia benar-benar mewakili sisi psikologis Eve yang sangat terlihat ingin disajikan oleh penulis. 

Begitupun dengan Kim Ji An sebagai pemeran Lee La El remaja. Aktingnya sangat kuat dan mengimbangi Ye Ji, hingga perbedaan aktris tak terlalu kentara. Lalu Yoo Sun sebagai Han So Ra. Sepertinya Eve memang ingin menampilkan duet dua wanita ini sebagai highlight, selain balas dendam Lee La El sebagai alur utama. 

ANTARA CINTA DAN BALAS DENDAM 
Ketika La El bernarasi tentang cinta yang akan jadi senjatanya untuk revenge, saya menyangsikan perjalanan drama ini ke depan. Sebab ide yang diusung dan kesan dari awal episode, Eve adalah drama tentang balas dendam. 

Maka jika penulisnya mengakhiri cerita ini dengan romansa, apalagi La El gagal membalaskan kemurkaan gara-gara jatuh cinta dengan Yoon Kyum, menurut saya drama ini gagal. Saya akan berhenti menonton, begitu batin saya. 

Namun ternyata, Yoon Young Mi sebagai penulis tidak alpa. Romansa yang saya suudzoni itu rupanya memang hanya bumbu. Bumbu yang jadi penyedap sekaligus alat bantu La El "memasak" rencana. 

Cinta melemahkan manusia, membuatnya gila dan tunduk. Tapi cinta juga memberi kekuatan hingga sang pecinta bersedia berkorban dan bersimpuh memohon maaf atas kesalahan. 

Siapa sangka, cinta yang jadi senjata utama La El malah berbalik menghujani hatinya yang menggelegak oleh amarah dengan butiran-butiran salju. 

13 tahun mempersiapkan rencana balas dendam paling menyakitkan, selama itu pula dia tak tahu arti cinta pada lawan jenis. Yoon Kyum menyadarkannya bahwa cinta itu ada. Bahwa ada bentuk emosi lain yang butuh dia kenali pada dirinya disamping gunung berapi bernama dendam. 

Jika kita bertemu secara kebetulan, akankah cerita kita akan berbeda? 

Jika aku tak bertatap muka denganmu lewat rencana matang, akankah jalan kita tak seterjal sekarang? 

Pada akhirnya, cinta Yoon Kyum pada La El-lah yang jadi pion kunci dalam menyukseskan rencana. Jika tak ada, saya yakin La El akan kesulitan menumbangkan para pengusaha berkuasa nan keji itu sekaligus. 

Meski rencananya matang, licin, rapi, tak terendus. Namun sekali mafia itu tahu, mereka akan mengejar La El tanpa ampun. Dan tak dapat dipungkiri, La El membutuhkan bantuan Yoon Kyum. 

Bantuan besar yang membutuhkan cinta sebagai landasannya. Sebab tak semua bisa rela status biliuner, pengusaha nomor satu Korea dan keluarga bergengsinya dijadikan bahan cemoohan banyak orang. 

Berbicara tentang cinta, alkimia perasaan itu juga-lah yang membuat Seo Eun Pyeong setia bersama La El. Menemukan sponsor berhati besar di tengah kesepian akibat tumbuh di panti asuhan, Eun Pyeong bersyukur sekaligus berhutang budi pada orangtua La El. 

Ketika kejadian traumatis di masa lalu, Eun Pyeong ikut marah dan turut bersimpati. Dia geram, dia murka, namun terpaksa mundur melindungi keluarga La El karena tak punya kuasa. 

Oleh karena itu, barangkali dengan bahan bakar amarah yang sama besarnya seperti La El, dia undur diri dari profesi pengacara dan beralih terjun ke politik agar bisa menempatkan para pelaku di bawah ketiak penguasa.

Dan itu terbukti memudahkan La El dalam membalaskan dendam. Pengacara Seo Eun Pyeong yang dulunya tak diperhitungkan sama sekali, kini menjadi politisi muda naik daun yang justru dicari-cari oleh para pengusaha itu. 

Penyamaran sempurna. Tampak luar tersenyum manis menyetujui proyek-proyek, di belakang menjadi partner in crime dan mata-mata untuk La El. 

Awalnya, sebetulnya saya tidak setuju jika Seo Eun Pyeong berakhir menyukai La El. Sebab, interaksi mereka dimulai ketika Eun Pyeong sudah terhitung dewasa sementara La El belum mencapai usia 20 sebagai batas minimal orang Korsel lepas dari status "di bawah umur". 

Namun seiring waktu, karena La El di masa kini bukanlah La El kecil yang dulu Eun Pyeong temui, saya berakhir mendukung politisi tampan, mapan dan tangguh ini mendapatkan hati La El. 

Saya memuja kekhawatiran yang tampak kental di matanya ketika La El dalam bahaya. Saya mengagumi ketulusan serta perlindungan yang penuh membingkai wajah dan sikap tubuhnya ketika berhadapan dengan La El yang terluka parah lahir batin. 

Lee Sang Yeob sungguh sangat karismatik sekali menjadi pemberi nyawa Seo Eun Pyeong. Mana pakai setelan melulu, duh. Kesan Sang Yeob yang polos di Sixth Sense seketika luntur. Berganti menjadi Seo Eun Pyeong sang politisi rupawan nan perhatian yang hanya ingin menyayangi, melindungi dan mencintai sepenuh hati tanpa meminta balasan.

Sayangnya memang, dalam kehidupan, banyak kesempatan ketika kita sudah berbuat baik pun, balasannya belum tentu sama. 

Peran Seo Eun Pyeong memang tidak diperuntukkan menguasai hati La El dengan cinta. Bagi La El dia adalah mentor, kakak, dan supporter setia. Dan bagi saya, hal itu sudah cukup logis dan memuaskan untuk keberlangsungan cerita. 

La El tak punya siapapun lagi sebagai pendukung. Di sekelilingnya hanyalah musuh. Meski ada partner pun, belum tentu bisa dipercaya seratus persen. Untuk itulah Eun Pyeong ada. Memercayai apapun langkah La El, mendampinginya, merangkulnya. Dia romantis dengan caranya sendiri.

Meski tidak berakhir mendapatkan cinta La El, setidaknya ia memperoleh hati para penonton 😘😘

At the last, seperti kalimat di awal, saya bersyukur Eve tetap dalam jalur tema revenge yang "dijual" sejak awal. Pembalasan dendam yang elegan, berani sekaligus keji. Pembalasan dendam yang pahit, namun juga menyentuh oleh percikan cinta dan ketulusan. 

Bravo! 








Komentar