Apa itu cinta?
Bersediakah kamu mencinta meski tahu akan berpisah?
Siapkah kamu menerima semua konsekuensinya?
STORYLINE
Lee Jeha (Namkoong Min), sutradara yang hendak comeback setelah hiatus. Ia memutuskan me-remake karya ayahnya sang sutradara legendaris di Korea, berjudul Love In White.
Love In White membutuhkan konsultan kesehatan yang mampu menjelaskan penyakit terminal. Jeha datang pada seorang dokter, dan dokter tersebut mengirim Lee Da Eum, pasiennya sekaligus aktris pemula.
Dulu, Lee Da Eum sempat meniti karir sebagai aktris dan pernah mengikuti audisi salah satu film Jeha juga. Namun, karena penyakit yang mengharuskannya tinggal di rumah sakit, ia mundur dari dunia hiburan.
Bertemu dengan Jeha, dan mengetahui Love In White membuka audisi untuk pemeran utama wanita, Da Eum memutuskan inilah kesempatan satu-satunya yang ia miliki untuk tampil di layar lebar, sebelum maut merenggutnya.
REVIEW
Ketika Our Movie tayang, netizen Korea mengkritik drama ini dengan melabelinya membosankan. Namkoong Min sebagai pemeran utama pria angkat bicara, menjanjikan, penonton dapat melihat perkembangan cerita di episode lima.
Jujur saja, kritik tersebut memang benar adanya. Sudahlah melodrama banget, sangat slow pace. Kita pun nggak tahu cerita ini mau dibawa kemana. Nggak jelas.
Tapi Namkoong Min benar. Bosan-bosannya penonton, khususnya saya, pelan-pelan menemukan arah seiring episode demi episode. Jeha yang kehilangan percaya pada cinta sebab belajar bahwa cinta itu menyengsarakan; Da Eum yang berjuang untuk terus menghidupi hidup di ambang kematian; dan karakter-karakter lainnya yang ikut bertumbuh bersama mereka.
Jeha sang sutradara berbakat berkarakter dingin, kukuh, macam beton. Susah banget mau lihat selarik senyumnya. Untung rupawan seperti pangeran. Kalau sudah larut dalam pekerjaan, dia akan mencari sejuta cara cerdik untuk menyukseskannya, termasuk remake Love In White, film yang awalnya enggan ia kerjakan namun harus dieksekusi demi menemukan dirinya kembali setelah menghilang dari dunia perfilm-an.
Jeha jujur pada aktris mantan pacarnya. Dia nggak paham cinta, dan nggak mau tahu. Remake Love In White pun adalah ajang pembuktian, dia berbeda dari ayahnya yang bilang cinta tapi menyakiti ibunya. Jeha mau di skenario Love In White nggak ada cinta sama sekali, jauh dari versi aslinya.
Karena nggak paham sama sekali tentang cinta, bahkan setelah Da Eum bilang berkali-kali dia suka, Jeha tentu butuh waktu lama untuk menerka. Dia beneran jatuh cinta sama gadis yang baru dia temui ini? Lebih lanjut, kalau memang cinta, dia mau ambil resiko untuk mencintai pasien terminal, yang sejatinya bakalan mati dan meninggalkan dia? Sanggup, nggak?
Premis dramanya dari awal sudah tertuliskan, Our Movie adalah kisah cinta sutradara dengan aktris pasien terminal. Pertanyaannya, balik lagi ke narasi berulang di artikel ini, dan untuk kita semua juga.
Sanggup mencinta dengan konsekuensi berpisah selamanya?
Proses Jeha dari sedingin es, lantas perlahan mencair, sampai di titik "pokoknya gue mau sama lo meski udah liat lo sakit" dan merasakan cinta sejati.
Proses Da Eum melalui penyakitnya di rumah sakit, tetap berakting monolog saking inginnya jadi aktris, nekat audisi meski berat, hingga ia beneran berdiri, berakting di tengah semua sorotan kamera dan staf yang mengakui talentanya.
Semuanya merupakan perjalanan berarti.
Bagi para karakter di dalamnya dan penonton yang mengikuti kisah mereka masing-masing.
MEMUJA SETIAP KATA
Selain storytelling, Our Movie tidak akan semagnetis ini jika bukan Namkoong Min dan Jeon Yeo Been pemeran utamanya.
Saya tahu Jeon Yeo Been adalah aktris dengan facecard serta proyek-proyek unik. Peran di setiap proyeknya sering berbeda, memiliki tantangan tersendiri. Saya sangat menyukainya di Be Melodramatic, sebagai produser dokumenter berkarakter unik yang kehilangan kekasih dan harus menghadapi traumanya.
Sementara Namkoong Min tak pernah saya tengok proyek melodramanya (My Dearest) dimana ia dapat penghargaan Best Actor Baeksang Art Awards karenanya. Tapi sepak terjangnya di dunia peran sangat mengesankan. Bagi saya, ia piawai membuat penonton tak bisa lupa akan karakternya, seperti villain perfeksionis berdarah dingin di The Girl Who Sees Smell dan agen ahli NIS traumatis di The Veil.
Saat Our Movie ongoing, cuplikan ia menyatakan cinta di My Dearest lewat di beranda. Sekian menit itu saja, aktingnya luar biasa. Dialog yang dia ucapkan, binar mata memuja penuh kasih dan mimik wajah, dia ekspresikan sepenuh hati seakan ia memuja tiap inci kata. Dan..itu membuat hati tergugah, lantas mau tak mau karakternya akan punya tempat di sudut hati.
Di Our Movie, dari episode awal, karakter Je Ha yang sedingin es namun diam-diam perhatian sudah membuat penonton berdesir. Seiring berjalannya kisah, ia yang benar-benar jatuh cinta makin membuat ramai kupu-kupu di perut.
Namun yang paling saya tunggu-tunggu adalah cara seorang Namkoong Min mengejawantahkan patah hati dan terpuruknya Lee Je Ha ketika Da Eum nantinya meninggalkan dia selama-lamanya sementara telah terlanjur cinta sedalam-dalamnya.
Terdengar jahat, tapi memang fakta hahaha.
Dan pemirsa, Namkoong Min memang sangat layak diganjar Best Actor Baeksang Art Awards. Sekian detik penuh, tiap inci ekpresi dari menyadari kenyataan, kerinduan yang takkan pernah menemukan muara, patah hati, lantas perlahan menitikkan air mata yang dipenuhi beban semua perasaan itu...
..mau sekian episode pun saya jabanin!
WORTH..
IT..
SEKALI!!
Penonton ikut menangis sakit hati. Terlebih Yeo Bin pun sama mengesankannya dengan Namkoong Min dalam hal ngajak-ngajak air mata turun berderai. Da Eum yang sangat menderita saat penyakitnya kambuh. Da Eum sebagai anak dan teman. Da Eum yang berakting totalitas. Da Eum sebagai pemimpi, yang menangis tersedu saking inginnya hidup.
SUNGGUH DUET MELODRAMA MAGIS.
Lantas, drama ini pun diperkuat dengan karakterisasi serta akting para aktor pendukung. Saya hampir menyukai semuanya, terlebih Ketua Tim Pencahayaan, Make Up Artist dan manajer ala-ala Da Eum yang buka restoran tapi menu-menunya dibuat dari bahan out of the box. Lebih anehnya, lidah Da Eum bisa menerima hahaha. Padahal pelanggan lain sering meringis memakannya.
OUR MOVIE UNTUKMU, A GOOD STORY ENTHUSIAST
Drama Korea dengan naskah yang benar-benar bagus, dalam setahun biasanya bisa dihitung jari. Untuk awal 2025, di melodrama, Our Movie pemenangnya.
Salah satu paragraf di atas disebutkan, akting magis Namkoong Min layaknya memuja tiap kata. Akting sempurnanya tersebut didukung oleh narasi indah naskah Our Movie. Seperti dialog Je Ha, saat mengobrol dengan bapak Da Eum ini.
"Mencintai seseorang yang sudah tahu kapan dia akan mati, adalah beban yang dibawa selamanya oleh orang yang ditinggalkan. Jika aku harus menanggung itu, jika aku tak mampu melupakan orang yang kucinta selama apapun, aku mau orang itu adalah Da Eum." -Lee Je Ha
Hal tersebut juga bisa kita lihat di adegan puncak. Confession scene berlatar senja, yang bukan hanya menyajikan romantisme, namun keberanian mengakui trauma dan kesediaan berkomitmen meski ajal membayang.
"Aku lupa banyak hal saat bersamamu. Kau sakit, tapi bagiku tidak. Tak ada waktu, tapi terasa ada. Aku menyukaimu, tapi kurasa tak seharusnya begitu. Kupikir aku salah, tapi aku sadar bahwa ini nyata."
Lantas dibarengi tatapan dalam Je Ha serta Da Eum, ost ikoniknya, serta shoot kamera.
Duh!
Mendayu. Sendu. Artistik. Bermakna.
Adegan confess melodrama paling indah!
Saya speechless saking indahnya, hanya meresapi tiap inci adegan di layar.
Silakan nonton sendiri.
Jjang!
Zey's Review: 6/5

Komentar
Posting Komentar
Komentar anda akan ditampilkan setelah ditinjau