Skip to main content

Flash Fiction #1; Jalan Prahara


Source: Wallpaper Flare


Aku menghidupkan motor dengan terburu-buru. Angka penunjuk jam di layar ponsel sudah menampilkan pukul  07.05. Hanya bersisa 25 menit sebelum dosenku yang selalu tepat waktu itu masuk kelas, dan melarang siapapun yang telat dalam waktu lama mengikuti jam ajarnya.

Cuaca sedang cerah, tapi aku malah bersungut-sungut mengomeli diriku sendiri gara-gara telat bangun. Tidur setelah subuh memang paling nikmat, bunyi alarm selama setengah jam saja tidak terdengar.

Tapi sudah tahu akan terlambat, aku malah memilih jalur perjalanan yang lebih lama dari biasanya. Rasa-rasanya teori itu benar adanya. Jika diserang rasa panik, kita akan sulit berpikir logis. Dan astaga, tangki bensinku ternyata mau habis. Lengkap sudah.

Laju motor kuperlambat, sambil celingukan mencari-cari pom bensin terdekat di sepanjang jalanan Darmo. Tidak ada. Saat tadi berhenti sejenak pun, letaknya memang jauh dari posisiku sekarang. Dalam hati aku hanya berharap, motorku tidak berhenti di tengah jalan.

Di tengah kebingungan itu, seorang pengendara motor tiba-tiba berbelok beberapa meter di depanku, membuatku mengerem mendadak, dan membuat laju motor sedikit oleng.

“Woi!”

Seruan kesal yang pada akhirnya hanya tertiup angin gara-gara pengemudi motor itu sudah berlalu jauh, berbaris santai di lajur kiri, menunggu lampu merah.  Aku, dengan masih menahan rasa sebal, memacu motor dengan arah lurus, sebab tujuanku tidak untuk berbelok kanan atau kiri.

“Dih, kenapa dia malah pilih jalur kiri? Kalau lurus kan barisnya di sini,” aku mengembuskan napas keras, senang karena aku mengambil jalur yang benar, tidak seperti pengemudi motor tadi. Kubetulkan letak posisi jilbab yang sedikit tersingkap karena angin.

“Mbak, ke kiri!” Seseorang berseru dari kejauhan. Aku yang berada di barisan paling depan menoleh tak mengerti. Orang itu hanya menggerak-gerakkan tangannya dan berkata ‘ke kiri, ke kiri’ saja.

“Apa sih?”

Melihatku yang hanya celingukan tak mengerti, orang itu akhirnya menyuruhku maju beberapa meter, menepi di bawah pohon.  Barulah setelah aku dimintai surat-surat kelengkapan kendaraan, aku sadar bahwa aku telah melanggar salah satu peraturan lalu lintas.

Bapak berjaket hijau dengan topi polisi itu bertanya, “Mbak tahu salahnya apa?”

Aku menggaruk kepala yang tak gatal. “Eh iya pak, saya salah ambil jalur.”

Pagi yang lengkap memang. 

Kutatap selembar kertas biru bertulis surat tilang itu dengan tatapan nelangsa.




Comments