Skip to main content

Flash Fiction #3; Hate Comment



Mira mengangkat tangan, meregangkan otot-otot bahunya yang tegang. Dosen pengampu mata kuliah reproduksi baru saja keluar. Menciptakan hela napas lega beberapa mahasiswa yang lelah. Sore-sore begini memang lebih nyaman dihabiskan dengan bersantai di kos, daripada masuk kelas mendengarkan materi kuliah.

 

“Mir, ke kantin yuk,” Rani menepuk bahu sahabatnya.

 

Mira berdecak senang. “Lo selalu tepat waktu deh kalo ngajak gue ke kantin.”

 

Dia beranjak dari kursi, merangkul bahu Rani. Mereka lantas berdendang riang, menuju spot di ujung lorong fakultas.

 

***

 

“Wah, gila!” Rani berseru keras, tangannya menutup mulut. Sendok baksonya berdenting menyentuh sisi mangkuk. “Eh, Mir. Si artis R jadi nikah sama mantannya artis M. Gila!”

 

Mira hanya mendengarkan sekilas, sibuk membelah bakso isi mozarella dan memakannya. Bakso bulat lebih menggoda daripada bergosip. Dia lapar sekali.

 

“Nikah di luar negeri. Banyak dihujat gara-gara dianggap merebut pacar orang. Astaga!” Rani menyeruput es teh lemon, dengan mata yang masih terpaku pada layar ponsel. “Dasar. Emang nggak ada cowok lain apa sampe rebut pacar orang?” ujarnya lagi sambil berdecak.

 

Telinga Mira panas demi mendengarnya. Dia sudah tahu Rani memang suka bergosip, tapi ini sudah keterlaluan. Dia hendak menyela, namun memilih diam dulu, melihat situasi.

 

Suara ketikan keyboard ponsel terdengar. Mira melongok, mengintip apa yang diketik Rani. “Eh, lo ngomen apaan?”

 

Rani tersenyum miring. “Menulis saran membangun buat mbaknya.”

 

Mira merebut ponsel Rani. Kursor spasi masih mengedip di laman komentar akun sang artis. Dia membaca ulang tulisan yang diketik Rani. “Wah, gue rasa rumah tangganya nggak bakal langgeng kalau dimulainya dengan rebut pacar orang begini.”

 

Dia menatap Rani tajam. “Lo mau komen begini, Ran?”

 

“Emang kenapa?” tanya Rini ketus, merebut ponselnya kembali.

 

“Ran, kita nggak berhak ngomentarin hidup orang sembarangan, apalagi doain yang jelek-jelek tanpa tahu kebenarannya. Ini momen pernikahan, momen sakral, harusnya kita doain yang baik-baik.”

 

“Gimana mau doain yang baik-baik, kalau caranya dapetin suami aja kayak gitu.”

 

You don't get my point, Ran,” Mira menghela napas, meletakkan sendoknya. “Apapun masalahnya, itu urusan mereka. Biar mereka yang nyelesain. Kita nggak berhak nge-judge sembarangan, ngomen sesuka hati di akun mereka. Nggak baik, Ran. Mereka juga punya hati.”

 

“Kita ini negara demokrasi, Mir. Ada kebebasan berpendapat. Lo nggak tau?” Rini bersikeras tak terima.

 

“Tau gue, tau. Tapi ada etikanya juga kali, Ran. Lo kira dengan komentar jelek, misalkan dengan akun bodong sekalipun, lo nggak dosa? Lo nggak bakal ditanyain gitu di akhirat? Sama aja.”

 

“Suka-suka gue dong, Mir, mau komen apa juga. Lo lama-lama mirip Mamah Dedeh ya, suka ceramah.”

 

Mira menatap sahabatnya, merasa sia-sia menasehati. Dia melontarkan pertanyaan terakhir dengan pasrah. “Terus, misalkan lo ada di posisi si artis itu, lo bakalan baik-baik aja gitu, Ran?”

 

Rani mengangkat bahu tak peduli, memakan baksonya hingga tandas. “Gue bukan artis, ya. Nggak bakal lah ada yang nyinyir begitu.”

 

***

 

Beberapa hari kemudian, Rani tergopoh-gopoh memasuki kelas siang, segera menghampiri Mira yang sedang mengerjakan tugas. “Mir, gawat, Mir.”

 

Mira mencabut earphone di telinga. “Apaan?”

 

“Nih,” Rani mengangsurkan ponselnya, menunjukkan sebuah postingan instagram. “Artis R yang kita omongin waktu itu, dia bikin pengumuman ini. Gue jantungan bangun tidur tadi, Mir.”

 

“Melaporkan akun-akun yang menulis hate comment..” ujar Mira, menyimpulkan caption unggahan sang artis. “Emang lo jadi posting?”

 

Rani mengangguk khawatir. “Duh gimana ini. Dia juga bilang kalo udah screenshot semua ribuan komen itu,” menelungkupkan kepala di meja.

 

Mira menatap sahabatnya. Ingin berkata bahwa ucapannya benar tempo hari. Tapi urung dia lakukan, karena bukan itu yang Rani ingin dengar sekarang. “Kenapa komentar lo nggak lo hapus aja, Ran? Kali aja masih lulus inspeksi, atau si artis cuma nakut-nakutin netizen aja? Lagian, dia juga nggak bilang kan, mau lapor hate comment di postingan yang mana.”

 

Kali ini Rani mengangkat kepalanya dengan semangat. Matanya membulat antusias. “Iya juga ya. Bisa juga,” bergegas menggulirkan layar, mencermati ribuan komentar di akun sang artis. Mira hanya tersenyum melihat ekspresi Rani, menggelengkan kepala heran lantas tekun lagi mengerjakan tugas di laptop.

 

***

 

“Hah,” Rani berseru panjang, menikmati es telernya dengan puas. Hampir satu jam dia menatap layar ponsel sampai mengabaikan sesi kuliah. Seperti mencari jarum pentul yang jatuh ke lantai mencari komentarnya diantara ribuan akun.

 

“Gue bilang juga apa, Ran. Nyesel kan lo?” Mira tersenyum tengil, menggoda Rani.

 

“Iya,” kali ini Rani tertawa lepas, tidak membantah seperti waktu itu. “Nggak lagi-lagi dah gue asal nyablak.”

 

“Sama lo kurang-kurangin juga nongkrong sama Lida cs. Mereka biang gosip, kurang berfaedah barengan sama mereka.”

 

“Eh tapi mereka yang paling tahu info ter..” Mira memasang tatapan tajam lagi, membuat Rani menganulir ucapan. “Oke, Mir, oke. Janji gue janji. Jangan kayak macan gitu dong.”

 

Mereka tergelak bersama. Di tengah tawa, Mira pamit menepi ke luar kantin mengangkat telepon. “Iya kak, udah beres. Makasih ya kak bantuannya. Apa? Hadiah nikahan? Gampang itu mah, yang penting lo udah disini, gue beliin dah apa yang lo mau. Mahal kak, ongkir ke luar negeri hahaha.”

 

“Siapa yang di luar negeri, Mir?” Rani tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya, merangkul bahu.

 

Mira berbicara beberapa patah kata lagi sebelum menyimpan ponselnya di saku celana. “Oh sepupu gue. Eh, makanannya gimana? Udah lo bayarin?”

 

“Iya. Kenapa? Lo masih belum kenyang?”

 

Mira menggeleng, melihat arloji di tangannya. “Ayo ke kelas. Bentar lagi pak Asep masuk.”

 

“Hah? Pak Asep?” Rani menepuk dahi, seperti disadarkan oleh sesuatu. “Gue duluan ya. Belum ngeprint tugas,” sebelum Mira mengangguk, Rani sudah berlari cepat melintasi lorong kampus. Meninggalkan Mira yang sekali lagi menggeleng-geleng heran.

 

Dia meraih ponsel saat dirasakannya benda itu bergetar. Ada pesan masuk dari kakak sepupunya. Sebenarnya tujuan lo apa sih minta gue posting announcement begitu?

 

Mira tersenyum lebar, membalasnya sambil berjalan menuju kelas. Sekali-kali temen gue perlu dikerjain kak, biar sadar. Lagian tiap hari dia ngegosip mulu,  sampe sakit kepala gue dengernya. Btw congrats sekali lagi ya kak. Happy wedding. Semoga langgeng rumah tangga lo.

 




Comments