Skip to main content

Flash Fiction #2; Seperti Apel

Source: Gardening Know How

Akh, bulan ini naeknya cuma dikit. Tau ah, kesel!” Mika menggebrak meja belajar sebal. Rambutnya berantakan, efek menatap layar komputer sambil harap-harap cemas. Dia keluar kamar dengan membanting pintu, berjalan cepat menuju dapur.

Bunda yang sedang menggunting-gunting tangkai mawar di ruang tengah sampai mengangkat bahu terkejut. “Sayang, berapa kali bunda bilang, hati-hati nutup pintunya.”

Mika tak menjawab. Dia justru muncul dari balik pintu dapur satu menit kemudian dengan wajah tertekuk sambil membawa segelas jus jeruk dingin. Dia melemparkan tubuh ke sofa di sebelah bunda. Jus di genggaman hampir memercik karena guncangan.

“Mika lagi kesel, Bunda!” serunya, mengunyah potongan es batu dengan cepat.

Bunda merangkai mawar yang telah rapi di vas. “Kenapa kok gitu?” tanyanya tenang.

Subscriber Mika bulan ini cuma nambah sedikit, Bunda. Padahal temen-temen sekomunitas yang mulai bareng Mika udah dapet satu jutaan. Mika setengahnya aja belum dapet. Sebel. Kenapa sih perkembangannya lelet amat. Mika iri!”

Bunda sebenarnya ingin tertawa geli, tapi dia tahan. Bisa-bisa putrinya ini ngambek sampai besok pagi. Bawaan anak tunggal, kadang-kadang manjanya setengah mati.

“Mika mau makan apel nggak? Pagi ini bunda lihat buahnya sudah matang. Gemuk-gemuk. Cantik lagi warnanya.”

“Ih, Bunda. Mika lagi kesel malah ditawarin apel,” wajahnya makin kusut. Tapi lima detik kemudian, saat Bunda beranjak menuju kebun belakang, Mika mengikuti. Marahnya menguap separuh mendengar buah favoritnya disebut.

Benar kata Bunda, buahnya segar dan ranum, bergelantungan di dahan. Semburat merah muda di kulitnya tampak indah. Padahal beberapa hari lalu saat dia mampir ke kebun, belum secantik ini tampilannya.

“Nih,” Bunda menjulurkan satu buah setelah menggosok-gosokkannya terlebih dahulu di ujung baju. Mika menerima dan langsung menggigit. Segar. Teksturnya renyah. Rasa manisnya intens sampai-sampai hampir menyamai gula.

Bunda tersenyum melihat wajah cerah Mika. Dia merangkul pundak putrinya. “Sayang, kamu tahu bagaimana apel di tanganmu bisa seenak itu?”

“Bibit terbaik? Varian apel yang emang manis? Mmmm kayaknya karena yang makan juga manis deh, Bunda,” Mika nyengir, masih mengunyah. Suara kres samar terdengar saat giginya melumat sebongkah daging buah.

Bunda tergelak atas kalimat itu, memperbaiki helai rambut Mika yang berantakan dengan sayang.

“Yah, benar juga. Tapi...” Bunda memberi jeda, meminta perhatian putrinya. “Ada satu hal yang tak kalah penting.”

“Apa tuh, Bunda?”

“Kesabaran berproses.”

Sepertinya Mika tahu arah pembicaraan ini. Dia memutuskan berhenti makan, menyimpan sisa apel di tangan, takzim mendengarkan.

Tatapan Bunda menyisir seluruh kebun. Petak warisan dari kakek yang juga gemar bercocok tanam. Bunda mewarisi keterampilannya. “Apel segar yang sekarang kamu makan, begitu pula tanaman lainnya, butuh waktu untuk menghasilkan ‘sesuatu'. Tidak bisa tanam sekarang besok berbuah. Menyemai kemarin, hari ini berbunga.”

“Nah, menurut Bunda, keadaanmu sekarang persis dengan apel favoritmu dan tanaman lainnya di kebun ini. Mereka berproses dan tumbuh dengan sabar bersama penanamnya, mengikuti ritme alam yang disediakan Tuhan. Tidak terburu-buru, sebab semua punya timingnya masing-masing.”

***

Mika menatap layar ponsel dengan puas. Video berkebun terbarunya sudah mencapai 1 juta tayangan, padahal hanya 6 jam lalu dia unggah. Ide Bunda setelah memberi wejangan 3 tahun lalu itu memang jos.

“Kapan lalu, Bunda nggak sengaja nonton videonya gadis Cina, Liziqi apa ya namanya. Kontennya berkebun gitu. Adem nontonnya, berasa lagi diterapi. Subscriber nya juga udah lumayan, padahal videonya baru sedikit. Kenapa kamu nggak coba itu, sayang? Kayaknya di Indonesia belum ada yang bikin.”

“Bisa tuh, Bunda. Mika ngerekam, Bunda yang berkebun.”

“Boleh. 5 persen gaji adsense buat Bunda ya.”

“Terlalu dikit, Bunda. 3 persen aja deh.”

“Ya udah, Bunda nggak mau.”

“Bercanda, Bunda. Deu cemberut hahahaha. Kalo subscriber udah 2 juta, Mika naikin 10 persen. Nggak deh, 15 persen. Oke? Oke? 10 persen? Oke! Deal!”

Saat sedang asyik menggulir layar, ada chat baru dari Ayah. Mika segera membukanya. “Selamat ulang tahun ke-21, sayang. Ayah harap kamu tetap sehat dan bahagia, cepat selesai juga skripsinya. Ayah sudah mendarat, lagi antri periksa suhu tubuh. Mika mau pie apel seperti biasa?”

Mika segera menjawabnya dengan gif anggukan kencang. Tak lupa menambahkan emotikon waru merah besar yang berdenyut pada Ayah. Dia lantas menekan tombol home, menatap wallpaper ponselnya. Potret dengan latar rumah sakit, Bunda yang tersenyum di atas kursi roda, Ayah berseragam pilot dan dirinya yang memeluk Bunda.

Life is all about timing. Termasuk masa hidup Bunda yang sudah usai di dunia.

Mika akan selalu mengingat nasehat itu. Dan meski Bunda sudah tiada, dia berjanji akan selalu merawat semua sentuhan tangan Bunda di kebun ini. Belajar kesabaran berproses bersama wortel, kentang, bugenvil, mawar dan apel kesayangannya.

Mika beranjak dari teras, meraih selang air, menyetel volume di ambang maksimal. Dia menatap pohon apel di hadapan dengan ceria, mengguyur seluruh bagian tanpa terkecuali.

 



 

Comments